DEFINISI OSEANOGRAFI
Oseanografi
dapat didefinisikan secara sederhana sebagai suatu ilmu yang mempelajari
lautan. Ilmu ini semata-mata bukanlah merupakan suatu ilmu yang murni, tetapi
merupakan perpaduan dari bermacam-macam ilmu dasar yang lain. Ilmu-ilmu lain
yang termasuk di dalamnya ialah ilmu tanah (geology). Ilmu bumi (geography).
Ilmu fisika (physics), ilmu kimia (chemistry). Ilmu hayat (biology) dan ilmu
iklim (metereology) (Hutabarat, 1985).
Salah satu metode yang dapat dilakukan dalam mempelajari oseanografi fisika
yakni pengamatan langsung dengan melakukan praktek lapang untuk mengetahui
oseanografinya itu sendiri. Oseanografi fisika dapat diketahui dengan
cara mengukur pasang surut, ombak, arus, angin seperti yang telah kita lakukan,
itu hanya sebagian dari oseanografi fisika tersebut, sehingga diperoleh
gambaran dasar tentang perbedaan dari data tersebut.
Adanya faktor-faktor fisik air laut, sepeti temperatur dan perubahan arus dapat
menyuburkan laut. Kedua, laut digunakan oleh manusia untuk berbagai aktivitas.
Manusia banyak menggunakan laut, seperti untuk transportasi, pengeboran minyak
dan gas, rekreasi, berenang, perikanan dan lain-lain. Ketiga laut mempengaruhi
kondisi cuaca dan iklim. Laut mempengaruhi distribusi hujan, kemarau, banjir
dan kondisi lingkungan suatu daerah.
Namun demikian, ilmu oseanografi biasanya hanya
dibagi menjadi empat cabang ilmu saja, yaitu :
1. Fisika
Oseanografi
Ilmu ini mempelajari
hubungan antara sifat-sifat fisika yang terjadi dalam lautan sendiri dan yang
terjadi antara lautan dengan atmosfer dan daratan. Hal ini termasuk
kejadian-kejadian pokok seperti terjadinya tenaga pembangkit pasang dan
gelombang, iklim dan sistem arus-arus yang terdapat di lautan dunia.
- Gelombang
Gelombang
adalah gerakan naik turun sebuah tubuh perairan yang dinyatakan dengan naik
turunnya permukaan air secara bergantian. Sedangkan ombak adalah suatu gangguan
yang bergerak melalui air tetapi tidak menyebabkan partikel-partikel air
bergerak karenanya (Triatmodjo, 1999).
- Arus Laut
Arus
laut adalah proses pergerakan massa air laut yang menyebabkan perpindahan
horizontal dan vertikal massa air laut tersebut yang terjadi secara terus
(Gross,1990). Pergerakan massa air ini ditimbulkan oleh beberapa gaya sehingga
Herunadi (1996) dalam Kurniawan (2004) mengemukakan bahwa sinyal arus merupakan
resultan dari berbagai sinyal yang mempunyai frekuensi terstentu yang
dibangkitkan oleh beberapa gaya yang berbeda-beda. Sedangkan menurut Hutabarat
dan Evans (1985) arus merupakan gerakan air yang terjadi pada seluruh lautan di
dunia.
- Pasang Surut
Menurut
Pariwono(1989), fenomena pasang surut diartikan sebagai naik turunnya muka laut
secara berkala akibat adanya gaya tarik benda-benda angkasa terutama matahari
dan bulan terhadap massa air di bumi. Sedangkan menurut Dronkers (1964) pasang
surut laut merupakan suatu fenomena pergerakan naik turunnya permukaan air laut
secara berkala yang diakibatkan oleh kombinasi gaya gravitasi dan gaya tarik
menarik dari benda-benda astronomi terutama oleh matahari, bumi dan bulan.
Pengaruh benda angkasa lainnya dapat diabaikan karena jaraknya lebih jauh atau
ukurannya lebih kecil.
2. Geologi
Oseanografi
Ilmu geologi penting
artinya bagi kita dalam mempelajari asal lautan yang telah berubah lebih dari
berjuta-juta tahun yang lalu. Termasuk di dalamnya adalah penelitian tentang
lapisan kerak bumi, gunung berapi dan terjadinya gempa bumi.
- Kedalaman
Kedalaman
suatu perairan akan membatasi penetrasi cahaya matahari yang secara langsung
membatasi kehidupan biota dasar. Penyinaran cahaya matahari berkurang secara
cepat sesuai dengan makin tingginya kedalamn lautan (Nybakken, 1992).
3. Kimia
Oseanografi
Ilmu ini berhubugan
dengan reaksi-reaksi kimia yang terjadi di dalam dan di dasar laut juga
menganalisa sifat-sifat dari air laut itu sendiri.
- Suhu
Suhu
adalah suatu besaran fisika yang menyatakan banyaknya bahang yang terkandung
dalam suatu benda. Secara alamiah sumber utama bahang dalam air laut adalah
matahari. Setiap detik matahari memancarkan bahang sebesar 1026 kalori dan
setiap tempat dibumi yang tegak lurus ke matahari akan menerima bahang sebanyak
0.033 kalori/detik. Pancaran energi matahari ini akan sampai kebatas atas
atmosfir bumi rata- rata sekitar 2 kalori/cm2/menit. Pancaran energi ini juga
sampai ke permukaan laut dan diserap oleh massa air (Nontji, 1987).
- pH
Derajat
keasaman atau pH merupakan suatu indeks kadar ion hidrogen (H+) yang mencirikan
keseimbangan asam dan basa. Derajat keasaman suatu perairan, baik tumbuhan
maupun hewan sehingga sering dipakai sebagai petunjuk untuk menyatakan baik
atau buruknya suatu perairan. Nilai pH juga merupakan salah satu faktor yang
mempengaruhi produktifitas perairan. Biasanya angka pH dalam suatu perairan
dapat dijadikan indikator dari adanya keseimbangan unsur-unsur kimia dan dapat
mempengaruhi ketersediaan unsur-unsur kimia dan unsur-unsur hara yang sangat
bermanfaat bagi kehidupan vegetasi akuatik (Hutabarat & Evans,1985).
- Kecerahan
Kecerahan
air merupakan ukuran kejernihan suatu perairan, semakin tinggi suatu kecerahan
perairan semakin dalam cahaya menembus ke dalam air. Kecerahan air menentukan
ketebalan lapisan produktif. Berkurangnya kecerahan air akan mengurangi
kemampuan fotosintesis tumbuhan air, selain itu dapat pula mempengaruhi
kegiatan fisiologi biota air, dalam hal ini bahan-bahan ke dalam suatu perairan
terutama yang berupa suspensi dapat mengurangi kecerahan air (KLH dan LON-LIPI,
1983 dalam Effendi, 2000).
4. Biologi
Oseanografi
Cabang ilmu oseanografi
ini sering dinamakan sebagai biologi laut. Dimana disini dipelajari semua
organisme-organisme yang hidup di lautan, termasuk hewan-hewan yang berukuran
sangat kecil (plankton) dan juga hewan-hewan yang berukuran besar dan
tumbuhan-tumbuhan air.
-
Mangrove
Asal
kata “mangrove” tidak diketahui secara jelas. Namun menurut Mac Nae (1968),
mangrove adalah kombinasi antara bahasa portugal “mangue” dan bahasa inggris
“grove”. Menurut Kitamura et al (2003), kata mangrove berarti tumbuhan tropis
dan komunitasnya yang tumbuh di daerah pasang surut. Hutan mangrove adalah
kelompok jenis tumbuhan yang tumbuh disepanjang pantai tropis dan sub tropis
yang memiliki fungsi istimewa di suatu lingkungan yang mengandung garam dan
bentuk lahan berupa pantai dengan reaksi tanah anaerob. (Snedaker dalam
Gunarto, 2004).
Tumbuh-tumbuhan
mangrove yang khas kebanyakan beradaptasi. Beberapa jenis seperti Avicennia
hidup di habitat yang lebih asin sedangkan Nypa fruticans terdapat pada habitat
yang berair lebih tawar. Lebih jauh dari vegetasi khas mangrove, terdapat
tumbuh-tumbuhan yang hidup di habitat tak asin dan mereka dikenal sebagai
sekutu mangrove (mangrove associates), yakni tumbuh- tumbuhan bukan mangrove,
tetapi berasosiasi dengan mangrove. (Dahuri, 2003).
-
Nekton
Hewan-hewan
perenang di laut sudah lama menjadi perhatian manusia karena nilai ekonomiknya
sebagai sumber makanan. Kelompok yang termasuk dalam nekton ini adalah ikan
bertulang rawan, ikan bertulang kerang, penyu, ular, dan hewan menyusui laut
yang kesemuanya termasuk Vertebrata.
-
Bentos
Bentos
mencakup biota menempel, merayap dan meliang di dasar laut. Kelompok biota ini
hidup di dasar perairan mulai dari garis pasang surut sampai dasar abisal.
Contoh biota menempel ialah sepon, teritip, dan tiram; biota merayap, kepiting
dan udang karang; dan biota meliang, jenis kerang tertentu dan cacing.
- Hewan
Laut
Di
dalam organisme laut terdapat berbagai macam spesies hewan yang hidup di laut
yang dapat melangsungkan hidupnya untuk beradaptasi dengan kondisi lingkunganya
untuk bertahan hidup. Hewan-hewan laut pada umumnya yaitu:
1. Anemon laut
Di
Indonesia, kebanyakan orang yang menghuni beberapa pulau,
seperti Pulau-Pulau Seribu yang memakan hewan ini. Jenis-jenis
anemone yang dimakan adalah mereka yang hidup menyendiri dan tidak berkerangka.
Anemone yang dimakan oleh orang-orang pulau di Indonesia adalah
marga Stoicactis (Actinaria).
2.
Crustacea
Crustacea
mempunyai banyak sekali jenis-jenis yang dimakan atau dimanfaatkan untuk
keperluan lain. Organisme yang termasuk dalam crustacea ini yaitu misalnya
udang karang dari margaPanulirus yang menghuni perairan terumbu karang
berperan penting dalam perikanan laut tropik, termasuk perairan Australia.
3.
Echinodermata
Teripang
(Holothuroidea) merupakan kelompok hewan laut satu-satunya dari filum
echinodermata yang secara luas dimanfaatkan dan diperdagangkan. Oleh karena itu
filum ini sangat penting karena filum ini khususnya organisme teripang dapat
dibudidayakan dan menghasilkan banyak keuntungan.
- Tumbuhan
laut
Selain
organisme hewan yang terdapat dilaut, terdapat pula juga berbagai biota
tumbuhan yang hidup dilaut. Di laut sama halnya seperti di darat,
tumbuh-tumbuhan merupakan produsen yang sesungguhnya, artinya biota ini mampu
membuat zat-zat organik yang mejemuk dari senyawa-senyawa anorganik yang
sederhana yang terlarut dalam air. Di laut, tumbuh-tumbuhan memegang peranan
utama karena biota ini merupakan makanan primer khususnya phytoplankton dan
tumbuh-tumbuhan yang melekat atau tumbuh-tumbuhan berakar yang memegang peranan
penting.
1. Alga
(algae)
Sebagian
besar alga berwarna indah dan ada pula yang bercahaya. Pada alga, pigmen-pigmen
dari kromatofor(chromatophore) menyadap sinar cahaya matahari untuk
berfotosintesis. Atas dasar warna yang dimiliki oleh alga laut, alga ini
dibedakan menjadi empat divisi yaitu Myxopyceae (alga hijau-biru),
Chlorophyceae (alga hijau), Phaeophyceae (alga coklat), dan Rhodophyceae (alga
merah). Alga laut dari marga-marga tertentu yang dikelompokkan dengan
nama rumput laut di panen sebagai bahan pangan, sebagai sumber
obat-obatan, sebagai sumber bahan kimia untuk industry dan sebagai pupuk
pertanian.
2.
Padang lamun (seagrass)
Padang
lamun merupakan hamparan tumbuhan seperti rumput atau alang-alang yang terbenam
di dalam laut yang dangkal, tenang, berpasir atau berlumpur. Tumbuhan lamun terdiri
dari rhizoma, daun dan akar. Rhizoma adalah batang yang terbenam dan mendatar
di atas permukaan dasar laut.
Sejarah dan
Perkembangan Ilmu Oseanografi
Manusia
tertarik pada lautan dapat ditinjau kembali pada permulaan zaman peradaban
manusia, ketika pengetahuan tentang dunia dibatasi pada negara-negara dimana
kapal-kapal pelaut dapat pergi dan kembali. Pada waktu itu bentuk dari peta
sangat penting artinya. Dimana bentuk peta ini menjadi semakin tepat begitu
pelayaran menyebrangi lautan makin lama makin menempuh jarak yang jauh dan
sering dilakukan. Pada zaman Ptolomeus, abad kedua sebelum masehi, lautan Mediterania
bagian Utara Afrika dan bagian pantai Selatan Asia daratan telah dipetakan
dengan sempurna. Pengetahuan tentang lautan juga turut berkembang pada arah
yang lain.
Pada
abad keempat sebelum Masehi seorang sarjana terkemuka bangsa Yunani,
Aristoteles, telah melakukan suatu penelitian yang mendetail mengenai
hewan-hewan dan tumbuh-tumbuhan laut. Dimana dia secara cermat telah
menjelaskan dan mengklasifikasikan organisme-organisme tersebut. Akhirnya pada
abad kesatu sebelum Masehi, hubungan antar gerakan pasang dan letak dari bulan
telah dimengerti oleh manusia untuk pertama kali. Pengertian ini mendorong
manusia untuk mampu membuat ramalan yang tepat. Manusia pada mulanya telah
menggunakan pengalaman mereka tentang adanya perubahan iklim di lautan, sehingga
dapat memanfaatkannya sebagai sarana untuk berdagang. Keadaan di lautan Hindia
misalnya, merupakan suatu daerah yang unik yang cocok untuk dipakai sebagai
contoh. Angin musim yang bertiup dari arah tenggara pada waktu terjadi musim
panas di belahan bumi utara dan akan bertiup dari arah yang berlawanan (Timur
Laut), pada waktu di belahan bumi sebelah utara terjadi musim dingin. Hal ini
memungkinkan kapal-kapal dengan peralatan pelayaran yang paling sederhana dapat
menyebrangi lautan pada satu musim dan kembali pada musim berikutnya.
pelayaran-pelayaran besar juga sama
pentingnya dalam memetakan garis pantai dan lautan-lautan dunia dalam
perkembangan sejarah berikutnya. Sebagai contoh, seorang bangsawan Portugis
Ferdinando Magelhaens telah mengadakan suatu pelayaran menegelilingi dunia pada
abad ke 14 setelah Masehi. Dia telah membuktikan, bahwa bumi ini berbentuk
bulat tidak datar seperti yang diperkirakan oleh orang banyak pada waktu
sebelumnya. Pada abad ke 18 seorang bangsa Inggris yang bernama James Cook
membuat seluruh peta dari Lautan Pasifik dan memperlihatkan adanya sebuah
daratan yang terletak pada bagian selatan kutub kutub yang selalu tertutup oleh
es. Beberapa ekspedisi oseanografi penting lainnya telah dilakukan oleh Challenger
(1872-1875), Gazelle (1874-1876), Vitiaz (1886-1889) dan Meteor (1925-1927).Ekspedisi Challenger khususnya, telah
membuat bantuan tambahan pengetahuan yang penting. Dimana membuat 492 kali
pengukuran kedalaman, 133 kali pengambilan contoh dasar laut dan mengumpulkan
data-data iklim, arus laut, suhu laut, komposisi air laut dan contoh-contoh
sedimen dasar dari 362 stasiun penelitian yang berbeda. Ekspedisi ini telah
mengadakan penelitian yang lama dan beberapa kali di perairan Asia Tenggara.
Pada
saat ini ilmu oseanografi merupakan suatu cabang ilmu pengetahuan yang
berkembang secara cepat dan membutuhkan ongkos yang mahal dan yang sering
bersangkutan dengan kerjasama internasional. Kapal-kapal penelitian oseanografi
sekarang telah dilengkapi dengan alat-alat yang rumit yang dapat mengumpulkan
data-data fisika, kimia dan biologi secara tepat dan jelas. Beberapa tahun
belakang ini merupakan perkembangan dari kapal-kapal yang sering mengadakan
penelitian dibawah permukaan air, bahkan sekarang sudah banyak dijumpai adanya
laboratorium dibawah air yang sifatnya permanen. Keterangan-keterangan dari
satelit yang selalu mengelilingi bumi juga menjadi begitu penting artinya dalam
melengkapi data-data tentang gejala arus laut dan pertukaran panas. Dimana hal
ini merupakan suatu pekerjaan yang sulit dilakukan dimasa yang lalu. Namun
demikian perlu ditekankan, bahwa ilmu oseanografi merupakan suatu ilmu yang
relatif masih muda, dimana masih banyak hal-hal lain yang harus dipelajari.
DAFTAR PUSTAKA
Babcock
& Wilcox Co. 2005. Steam; Its Generation And Use, Edition 41, Chapter
8,StructuralAnalysis and Design, Barberton
Biologi
Laut : Suatu Pendekatan Ekologis. Diterjemaahkan
oleh H. M. Eidman, Koesoebiono, D. G. Bengen, M.PT Gramedia. Jakarta Parsons,
T. R., M. Takashi, and B. Hargrave, 1984.
Biological
Oceanography Process. Third Edition. Pergamon Press, New York.Valiela, I.,
1984
Hutabarat,
Sahala, dan Stewart M. Evans, 1985. Pengantar
Oseanografi.Universitas Indonesia Press,Jakarta.